• Kam. Okt 6th, 2022

Kualitas udara di ibu kota DKI Jakarta kembali memburuk dengan rata rata tingkat polusi PM2.5 sebesar 37.8 µg/m3. Bandung dan Yogyakarta juga mengalami kenaikan polusi PM2.5 yang cukup signifikan. Melansir data dari nafas Indonesia, terdapat tren kenaikan polusi PM2.5 sebanyak 25 persen pada Juni 2022 dibandingkan dengan bulan Mei 2022.

"Setelah 2 tahun mengamati pola kualitas udara di Indonesia, kami menemukan ada korelasi antara kualitas udara yang tidak sehat dan musim kemarau." "Ketika musim kemarau tiba, besar kemungkinan untuk kualitas udara memburuk secara merata karena berkurangnya curah hujan dan pergerakan angin yang membantu mengurangi penumpukan polusi," kata Nathan Roestandy, CEO dan Co Founder nafas Indonesia dalam keterangan pers tertulisnya, Jumat (24/6/2022). Nafas Indonesia merupakan aplikasi pemantau kualitas udara yang sudah memiliki lebih dari 160+ sensor darat di Pulau Jawa, Bali dan Belitung.

Berikut ini adalah lampiran grafik tren kualitas udara yang memburuk selama bulan Juni 2022 berdasarkan data dari nafas Indonesia. Secara umum, kualitas udara memburuk di daerah Jabodetabek, Bandung dan Yogyakarta. Dapat diperkirakan bahwa Indonesia, terlebih lagi, Pulau Jawa, sudah memasuki episode kualitas udara musim kemarau yang cenderung akan kian memburuk.

Nathan juga mengungkapkan kekhawatirannya akan dampak dari polusi PM2.5 terhadap kesehatan, karena polusi tersebut dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti penyakit yang menyerang saluran pernafasan hingga penyakit penyakit kronis lainnya seperti jantung koroner dan kanker. Beberapa organisasi dan komunitas terkait juga mengungkapkan kekhawatiran yang serupa. Novita Natalia, selaku Community Manager di komunitas digital, Bicara Udara mengatakan bahwa upaya warga Jakarta untuk hidup sehat bisa menjadi sia sia.

"Miris ketika orang orang berusaha lebih sehat dengan berolahraga di pagi hari, mereka justru terancam oleh kualitas udara yang buruk yang dapat mengancam nyawa mereka," ujar Novita. Adhityani Putri, Executive Director Yayasan Indonesia CERAH berpendapat kualitas udara Jakarta yang belakangan ini memburuk merupakan masalah berulang yang belum kunjung berhasil diatasi oleh pemerintah provinsi maupun pusat. "Sumber pencemarannya harus segera ditangani, yaitu pemanfaatan energi fosil di sektor transportasi, industri dan ketenagalistrikan. Pemerintah tidak boleh terus menerus mementingkan kepentingan bisnis dan ekonomi jangka pendek dengan membiarkan kondisi ini berlangsung dengan dalih bahwa perubahan itu mahal."

"Dampak kesehatan yang akan menimpa warga Jakarta akan berujung berkurangnya produktivitas dan biaya kesehatan yang tinggi. Inilah yang akan menjadi jauh lebih mahal," ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.